Jenis Jenis Kereta bagian 1

BB 204

DIMENSI

  1. Lebar sepur (track gauge) 1067 mm
  2. Panjang body 12600 mm
  3. Jarak antara alat perangkai 13500 mm
  4. Lebar badan (body) 2800 mm
  5. Tinggi maksimum 3660 mm
  6. Jarak gandar 2880 mm, 1600 mm
  7. Jarak antar pivot 7050 mm
  8. Diameter roda penggerak 895 mm
  9. Diameter roda idle 720 mm
  10. Tinggi alat perangkai 760 mm

BERAT

  1. Berat kosong 52,8 ton
  2. Berat siap 55 ton
  3. Berat Adhesi 44 ton

MOTOR DIESEL

  1. Tipe MTU 12 V 396 TC 12
  2. Jenis 4 langkah
  3. Daya Mesin 1230 HP


MOTOR TRAKSI/CONVERTER

  1. Jumlah motor traksi 4
  2. Tipe motor FLD 2057 A
  3. Gear ratio
  4. Tipe Generator WG xy 450 dw 6 / AC

PERFORMANSI

  1. Kecepatan maksimum 60 km/jam
  2. Gaya tarik maksimum (adhesi) 8820 kgf
  3. V min kontinyu 20 km/jam
  4. Jari-jari lengkung terkecil 80 m


KAPASITAS

  1. Bahan bakar 1700 lt
  2. Minyak pelumas 200 lt
  3. Air pendingin –
  4. Pasir 80 Kg

LAIN-LAIN

  1. Sistem rem Pneumatic, Drum Brake
  2. Tipe kompresor

merupakan jenis lokomotif diesel-elektrik terakhir di keluarga loko ‘BB’ yang dibeli oleh PJKA, dan merupakan satu-satunya loko BB diesel-elektrik yang dibeli dari pabrik SLM di Eropa. Bukan hanya itu saja, BB204 juga merupakan satu-satunya lokomotif diesel yang didesain untuk lintas jalan rel bergerigi, yaitu jalan rel yang memiliki gradien kemiringan lereng lebih dari 30 permil.

Lokomotif BB204 pada awal operasionalnya didinaskan untuk menarik rangkaian ZZOW untuk mengangkut batubara dari tambangnya didekat stasiun Sawahlunto, dimana spesifikasi gerbong ZZOW yg masih asli sejak era lokomotif uap, yaitu menggunakan tipe coupler ganco, sehingga jenis coupler yang dimiliki BB204 secara default juga berjenis ganco. Inilah keunikan utama yang lain, yang dimiliki BB204.

Lintasan operasional awal BB204 yang melewati jalan rel bergerigi, menjadikan loko ini memiliki roda gigi yang terpasang di tengah masing-masing gandar penggeraknya. Oleh karena itu, antara traksi motor dan gandar roda penggerak dihubungkan dengan batang gardan. Dengan kekuatan tekanan gandar jalan rel yang dilaluinya hanya mampu menahan hingga 11 ton saja, BB204 memiliki 1 bogi idle yang berfungsi untuk menahan berat total lokomotif agar tekanan gandarnya tidak lebih dari 11 ton.

PJKA membeli BB204 sebanyak 17 unit, yang datang si Indonesia selama 3 tahap, yaitu tahun 1981 dengan nomor 01-06, tahun 1983 dengan nomor 07-10, dan tahun 1993 dengan nomor 11-17. Namun sangat disayangkan, masa dinas lokomotif ini untuk angkutan batubara harus berakhir beberapa tahun kemudian setelah produksi batubara Sawahlunto habis. Sehingga jalan rel bergerigi yang ada terpaksa dinonaktifkan sementara, bahkan sebagian telah dinyatakan mati, dan loko-loko BB204 harus mangkrak, sementara sebagian BB204 yang lain digunakan untuk KA wisata danau Singkarak yang menggunakan kereta penumpang ber-coupler ganco. Hingga tahun 2007,  jumlah loko BB204 yang masih bisa beroperasi hanya 12 unit, dari 14 unit yang ada, sedangkan sisanya telah afkir demi mensuplai suku cadang BB204 yang masih beroperasi karena pabrik SLM tidak lagi membuat suku cadangnya.

CC200

Lokomotif CC200 atau seri pabriknya ALCO-GE UM 106T, di buat oleh ALCO-GE atas pesanan DKA (Djawatan Kereta Api). Pada tahun 1953 lokomotif CC200 pertama kali di Indonesia, hingga total sebanyak 27 unit. Selain sebagai Modrenenisasi lokomotif dari penggerak tenaga Uap ke penggerak tenaga Diesel juga sebagai penambahan armada yang rusak akibat Agresi Militer Belanda di Indonesia sebelumnya yang banyak menghancurkan Asset-Aset lokomotif di Indonesia.

Hal yang unik dari lokomotif ini adalah, terdapat sepasang roda Idle/Roda tanpa penggerak di bagian tengah lokomotif, Karena tekanan gandar jalan rel di Indonesia saat itu maksimal 12 ton maka CC 200 yang memiliki berat 96 ton terlalu berat apabila hanya memiliki susunan Co’Co’ atau 2 gandar penggerak 3 roda (Co-Co). Maka ditambahkanlah gandar tambahan sehingga susunannya menjadi Co’2’Co’ atau 2 gandar penggerak 3 roda dan satu gandar tak berpenggerak dengan dua roda. Susunan ini unik karena hanya di Indonesia lokomotif ini dimodifikasi gandarnya untuk mengakali tekanan gandar yang besar agar dapat di lalui di Jalan rel Indonesia.

Karir lokomotif CC200 ini cukup menarik, Mulai dari membawa rombongan KTT Asia-Afrika tahun 1955 dari Jakarta ke Bandung, Menarik berbagai macam KA mulai dari KA Penumpang dan Barang hingga akhirnya tahun 1980an Operasional lok CC200 ini di pangkas dan hanya melayani KA Barang atau hanya sekedar Langsiran.
Muali tahun 1990an Lokomotif CC200 di indonesia banyak yang mulai di Afkirkan / Di pensiunkan karena sudah tidak cocok untuk melayani angkutan kereta api.

D 301

DIMENSI

  1. Lebar sepur (track gauge) 1067 mm
  2. Panjang body 7370 mm
  3. Jarak antara alat perangkai 8980 mm
  4. Lebar badan (body) 2700 mm
  5. Tinggi maksimum 3650 mm
  6. Jarak gandar 4500 mm
  7. Jarak antar pivot
  8. Diameter roda penggerak 904 mm
  9. Diameter roda idle
  10. Tinggi alat perangkai 760 mm

BERAT

  1. Berat kosong 26.6 ton
  2. Berat siap 28 ton
  3. Berat Adhesi 28 ton

MOTOR TRAKSI/CONVERTER

  1.  Jumlah motor traksi 1
  2. Tipe motor traksi Fried Krupp 2W1L4 – 15

PERFORMANSI

  1. Kecepatan maksimum 50 km/jam
  2. Gaya tarik maksimum (adhesi) 5880 kgf
  3. V min kontinyu 5 km/jam
  4. Jari-jari lengkung terkecil 80 m

KAPASITAS

  1. Bahan bakar 1050 lt
  2. Minyak pelumas 90 lt
  3. Air pendingin 225 lt
  4. Pasir 300 lt
  5. Minyak transmisi 150 lt

LAIN_LAIN

  1. Sistem rem
  2. Tipe kompresor Erhard S Schmer Westinghouse ISO-105

Lokomotif D301 adalah lokomotif diesel tipe hidrolik yang dibeli dari pabrik Krupp (Jerman) dan mulai didinaskan pada tahun 1962. Lokomotif D301 didatangkan oleh DKA (Djawatan Kereta Api) sebanyak 80 unit pada tahun 1962. Lokomotif D301 digunakan untuk dinas langsir menyusun gerbong barang / kereta penumpang atau untuk menarik kereta penumpang / gerbong barang di rute cabang. Lokomotif D301 didatangkan untuk menggantikan peran lokomotif-lokomotif uap tipe kecil seperti lokomotif uap C11, C12, C13, C14, C15. Selain untuk kegiatan langsir, lokomotif D301 juga pernah digunakan untuk menarik kereta campuran yang terdiri dari 2 kereta penumpang dan 3 gerbong barang, yaitu pada rute Semarang – Demak – Rembang – Blora, Demak – Purwodadi – Gambringan, Yogyakarta – Magelang, Yogyakarta – Bantul dan Solo Purwosari – Wonogiri.

D301 merupakan salah satu perintis modernisasi lokomotif di pulau Madura (Jawa Timur) sampai dengan ditutupnya operasional kereta api di pulau Madura pada tahun 1987. Lokomotif D301 selalu identik dengan jalan rel yang berdampingan dengan jalan raya sehingga lokomotif D301 hanya dijinkan berjalan dengan kecepatan maksimum 25 km/jam. Lokomotif ini mampu beroperasi di jalan rel kategori kecil (tipe R25 atau R33). Lokomotif D301 berperan untuk menambah atau mengurangi gerbong barang / kereta penumpang dalam rangkaian kereta. Kegiatan langsir biasanya dipandu oleh seorang juru langsir.

Kegiatan Langsir oleh Lokomotif D301 dapat dilakukan di wilayah stasiun maupun di luar wilayah stasiun dengan ketentuan tidak mengganggu perjalanan kereta api, seperti kegiatan langsir untuk bongkar/muat bahan bakar minyak di dipo pertamina atau kegiatan langsir untuk bongkar/muat angkutan semen/pupuk di dalam wilayah pabrik.

BB 303

IDENTITAS KERETA

  1. Kode model loko DHG1000BB
  2. Desain angkutan universal (barang dan penumpang)

DIMENSI

  1. Lebar sepur 1067 mm
  2. Panjang bodi11200 mm
  3. Jarak coupler 12320 mm
  4. Lebar bodi  2800 mm
  5. Tinggi bodi  3690 mm
  6. Jarak gandar 2200 mm
  7. Jarak pivot 5800 mm
  8. Diameter roda traksi 904 mm
  9. Tinggi coupler 770 mm
  10. Berat kosong 40,9 ton
  11. Berat siap 44 ton
  12. Berat Adhesi  44 ton

CONVERTER DAN MESIN

  1. Tipe mesin MB 12 V493 TZ10 (nomor 01-42), MTU 12V 396 TC42 (nomor 43-57)
  2. Jenis 4 tak, turbocharger
  3. Daya output 1010 hp
  4. Daya ke converter 940 hp
  5. Jumlah converter 1
  6. Tipe converter Voith L520 rU2

KEMAMPUAN

  1. Kecepatan maksimul 90 kmh
  2. Adhesi maksimum 8998 Kgf
  3. Kecepatan kontinu 14 kmh
  4. Radius terkecil 80 m

KAPASITAS

  1. Bahan bakar 1700 lt, HSD
    Pelumas mesin: 170 lt

SISTEM REM

  1. Sistem rem udara tekan, parkir
  2. Tipe kompresor Knorr VV 450/150-10

BB303 adalah lokomotif keempat jenis diesel-hidrolik dalam keluarga lokomotif tipe ‘BB’ dan merupakan loko DH kedua yang dibeli PJKA dari perusahaan Henschel, Jerman. Jumlah unit BB303 yang dibeli jauh lebih banyak dari pendahulunya, BB302, yaitu 57 unit yang dibagi dalam 6 tahap. Tahap pembuatan dan pendinasan BB303 terbagi di tahun 1973 (nomor 1-15), tahun 1975 (nomor 16-19), tahun 1976 (nomor 20-21), tahun 1978 (nomor 22-37), tahun 1980 (nomor 38-42), dan yang terakhir tahun 1984 (nomor 43-57).

Di masa kejayaan, lokomotif ini dialokasikan di banyak dipo lokomotif di Jawa dan Sumatera, yaitu dipo lokomotif Medan, Solok, Padang, Tanah Abang, Bandung, Cepu, dan Jember, yang pada waktu itu banyak lintas jalan relnya yang masih rendah kekuatan tekanan gandar jalan relnya. Seiring peningkatan kekuatan tekanan gandar jalan rel, lokomotif ini semakin tidak efektif. Hingga saat ini jumlah loko BB303 semakin berkurang karena banyak diantaranya yang mengalami kerusakan, sehingga lokomotif ini banyak yang masuk daftar afkir dan komponennya badan atau mesinnya banyak yang digunakan untuk menggantikan komponen BB303 yang lain, akibat pabrik pembuatnya tidak lagi membuat komponen suku cadangnya.

Ada salah satu loko BB303 yang sangat dikenal karena terlibat dalam tragedi kecelakaan kereta api yang terbesar dalam sejarah perkeretaapian Indonesia, yaitu BB30616 yang terlibat tabrakan dengan BB30616 antara KA 220 dan KA 225 di daerah Bintaro. Karena begitu banyak korban penumpang yang tewas ditempat mencapai lebih dari 150 orang, peristiwa tersebut masih dikenal hingga saat ini sebagai Tragedi Bintaro.

Selanjuatnya>>>>>>>Bagian Ke 2